Ada Apa Dengan Nizwar Affandi?

135 views

 

Penulis : Khaidir Asmuni

 

Terima kasih Bung Nizwar Effandi atas kritik yang telah dilakukan dan itu membuktikan bahwa di era kepemimpinan Gubernur Arinal Djunaidi ini mengkritik tetap dihargai, meski kritik tersebut seperti orang buta memegang ekor gajah. Mengambil kesimpulan dari sudut yang hanya ingin lihat sendiri olehnya.

Masyarakat juga tidak perlu terlalu serius menanggapi apa yang dilontarkan Nizwar yang dalam setiap mengkritik dia menyebut diri pengamat kebijakan publik. Namun kalau melihat latar belakangnya dari MKGR, underbuow dari Partai Golkar, artinya analisis yang dilakukan dari seorang politisi bukan dari seorang akademisi. Kalau beliau akademisi yang memang ahli ekonomi mungkin masyarakat akan mengernyitkan dahi untuk memperhatikannya. Namun, Nizwar lebih condong ke politisi sehingga wajar saja kalau ada kader Golkar yang bereaksi.

Kalau kita kaitkan dengan euforia yang terjadi di dunia politik, kritik-kritik itu bisa saja tidak bisa terlepas dari agenda setting, framing dan priming, yang ingin dibentuknya.

Kenapa framing? Karena selama 2 tahun yang diamati oleh Nizwar adalah sisi yang (maaf) tidak positif terkait dengan hasil karya dari pemerintahan Gubernur Arinal.

Kalau kita kaji melalui data-data media masa, kritik yang dilakukannya belum seimbang dengan hasil kerja nyata yang dilakukan oleh pemerintah Provinsi Lampung. 

Misalnya, layak dipahami kalau bicara kesejahteraan masyarakat, misalnya NTP, dalam suatu populasi tentu dari keseluruhan populasi ada yang menganggapnya baik, ada yang menganggapnya harus diperbaiki lagi dan ada yang berada di antara di posisi keduanya.

Dengan kata lain ada NTP pertanian yang dibawah 100. Namun di peternakan di atas 100. Ada yang mungkin di antara keduanya.

Setelah dua sisi ini digabungkan, akan terdapat daerah yang diarsir, daerah yang berhasil dan yang belum berhasil dan daerah di antara keduanya. Tapi ini tidak tergambar dari analisis Nizwar. Semua populasi itu seolah-olah menunjukkan yang buruk. Dan dia tidak beranjak dari memegang ekor gajah. Makanya analisisnya berarti mengarah lebih kepada framing pemberitaan.

Analisis sederhana jika menggunakan pola Robert N. Entman, yang menggunakan 4 sudut pandang. Define Problems, Diagnose causes, Make Moral Judgement, dan Treatment Recommendation. 

Masalah yang dikaji Nizwar, Define Problems / Problem identification yang dibidiknya yaitu kegagalan yang berpengaruh ke kesejahteraan rakyat (dari 3 hal yang diamatinya: NTP, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran).

Diagnose causes / Causal Intrepretation, yaitu siapa penyebab masalah dan peristiwa disebabkan oleh apa? Kegagalan disebabkan penentu kebijakan(policy maker).

Lalu tentang Make Moral Judgement, yaitu nilai moral apa yang disajikan dalam menyelesaikan masalah? Menurut Nizwar di pemberitaan RMOL Lampung 12 November 2021: DPRD Provinsi Lampung mestinya bisa lebih berani dan sungguh-sungguh menjalankan fungsi kontrol sekaligus mitra kritis terhadap kinerja Arinal-Nunik.

Treatment Recommendation, yaitu penyelesaian yang ditawarkan untuk menyelesaikan masalah dan jalan yang ditawarkan dan harus ditempuh untuk mengatasinya? Nizwar tidak memberikan pemecahan masalah.

Secara framing Robert N. Entman pun jelas terlihat bahwa Nizwar mengarah ke DPRD yang tidak memberikan masukan kepada Gubernur. Artinya di sini persoalan yang sesungguhnya itu adalah keseimbangan menjalankan peran. Terutama DPRD. Maka yang gagal sebetulnya legislatif atau eksekutif? Karena Moral Judgement yang ditembakkan Nizwar justeru ke DPRD.

Padahal, DPRD sendiri justeru mengapresiasi kinerja Gubernur. Sebab, pertumbuhan ekonomi sudah mulai berjalan stabil, meski belum 100 persen namun perputaran ekonomi di Provinsi Lampung sudah mulai berangsur baik. 

Dari content analisys framing juga terlihat jika Nizwar cenderung lebih fokus pada masalah daripada solusi. Ada apa dengan Nizwar?

Indikator Penilaian Kinerja

Menilai kinerja tidak objektif jika hanya dari input atau output, melainkan terdapat indikator lain yang tidak kalah penting. Misalnya dari proses dan outcome (impact)nya.

Di dalam hal proses, misalnya, justru dalam indikator ini Pemerintahan Gubernur Arinal diberi penghargaan PPD oleh Kementerian Dalam Negeri.

Sementara untuk impact ataupun efek yang ditimbulkan dari kepemimpinan Arinal adalah berhasilnya Arinal mempertahankan semangat masyarakat dalam menghadapi pandemi untuk bangkit kembali. Ini dibuktikan dengan berbagai kegiatan baik langsung turun ke lapangan maupun aktivitas pembangunan yang bangkit sebagai akibat dari kebijakan perekonomian yang ditumbuhkan oleh Gubernur Arinal.

Jika hanya melihat dari output indikator seperti yang dilakukan oleh Nizwar (yang hanya membaca data BPS) maka sifatnya akan bersifat tentatif karena itu akan berubah.

Kita juga harus memahami bahwa data-data yang diperoleh dari BPS adalah menggunakan metode statistika yang didalamnya juga ada populasi, sampling, kemudian data itu dijelaskan secara deskriptif. Ada inferensial. Ada yang dilakukan dengan survei. Dan ini harus dibedakan survey dengan sensus itu berbeda.

Karena ini yang berbeda dengan sensus hal-hal yang terkait dengan statistik tentu berbeda dengan matematika yang fixed. Kalau kita memahami statistik dari buku Darrell Huff kita akan sadar bahwa statistik itu ada sisi lain yang harus diperhatikan. Kalau tidak kita bisa, maaf, tertipu oleh statistik.

Sekarang kalau kita pertanyakan data data BPS itu berasal dari lembaga-lembaga pemerintahan yang ada di Provinsi Lampung atau mereka selalu melakukan survei ke bawah. 

Tentunya data-data dari lembaga itu akan masuk ke mereka. Bagaimana mungkin lembaga-lembaga yang memang dikoordinasi oleh Gubernur memberikan data yang menyerang Gubernur sendiri.

Dan satu lagi yang tidak kalah penting adalah BPS memang dituntut untuk tidak mengeluarkan sebuah analisis yang melemahkan semangat masyarakat di masa pandemi. Sebab sudah jelas-jelas itu akan berdampak terhadap perekonomian dan lain-lain. 

Dengan adanya analisis ini tentu akan berdampak pada sikap pesimistis di dunia perekonomian.

Kita memahami kalau di dunia jurnalistik fakta primer itu adalah data itu sendiri. Itu fakta primer. Berbeda setelah sampai di tangan kita lalu diberi analisis itu sudah beropini. Opini-opini ini justru tidak produktif bagi bangsa ini untuk mengatasi pandemi.

Di luar pandemi pun, data atau fakta primer harus secara bijak digunakan. Jika tidak, maka akan menimbulkan dampak di masyarakat.

Contohnya saja ketika ada kecenderungan Bulan Puasa atau Lebaran harga cabai akan naik sementara fakta primernya harga cabai itu berubah bergerak dari Rp5.000 ke Rp10.000. Jika dijelaskan bahwa harga cabai Rp10.000 (tanpa embel embel opini) maka dampak kepada masyarakat tidak begitu luas. Namun justeru berdampak setelah di campur dengan opini, misalnya judulnya dibuat "Harga cabai berpotensi naik menjelang lebaran". Judul ini dibuat dengan melihat perbedaan yang besar dari Rp5000 ke Rp10.000. Dengan judul seperti itu, maka harga cabai akan naik sungguhan.

Tentu ini akan berdampak bagi masyarakat yang sebelumnya mungkin harga tersebut akan bergerak wajar saja kenaikannya, begitu ada berita tersebut naik langsung melonjak.

Karena apa? Karena opini. Apapun sebutannya apakah itu analisis atau apa tetap beropini yang mempengaruhi situasi di masyarakat.

Kembali ke soal indikator kinerja. Yang lebih penting adalah impact dari kebijakan itu. Yang mempengaruhi kinerja dari masyarakat. Sebab, tidak dipungkiri bahwa pandemi Covid 19 ini membuat semua negara tidak hanya Indonesia yang mengalami dampaknya. 

Namun uniknya justru Lampung berhasil meningkatkan ekspor dan roda perekonomian tetap berjalan. Ini berkat susah payah yang diperjuangkan oleh pemerintahan Gubernur Arinal.

Dan ini sama sekali tidak terlihat oleh Bung Nizwar. Ada apa dengan Nizwar?

Untuk sekadar membantu saudaraku Nizwar, ini ada sejumlah catatan yang terjadi di tahun 2021 (untuk tahun 2020 banyak hal yang menjadi catatan positif). Di tahun 2021 ini merupakan tahun prestasi.

Meski didera pandemi Covid 19 Provinsi Lampung berhasil meraih sejumlah penghargaan. Penghargaan tersebut diantaranya Parahita Ekapraya, Kinerja pemerintah provinsi tipe A, Inovasi pertanian, penghargaan dari Kementrian Lingkungan Hidup dan

Kehutanan (KLHK), produksi padi nasional, 10 besar PPD (Penghargaan Pembangunan Daerah), inovasi tatanan normal baru dan penghargaan Abdi Bakti Tani, serta prestasi lain. 

Kita mungkin masih sempat tidur siang meski ketika kita membuka mata dan baca berita Gubernur Arinal kembali mendapatkan penghargaan dari Menteri Tenaga Kerja. 

Penghargaan demi penghargaan yang diperoleh ini tentu memiliki dasar yang kuat. Semuanya mengarah ke kesejahteraan masyarakat. Dari situlah pemerintahan dinilai produktif.

Lantas bagaimana dengan yang terlanjur memegang ekor gajah? Sementara gambaran gajah yang sesungguhnya itu sangat besar. Yang memiliki kepala, belalai, badan, kaki. Yang kalau dia berlari bisa mencapai kecepatan 140 km per jam. Itu sama sekali tidak tergambar jika analisisnya tidak beranjak dari analisis yang itu-itu saja. Makanya patut kita patut dipertanyakan ada apa dengan Nizwar? (BERSAMBUNG)

 

 

author