Kisah Membuminya Para Presiden

117 views

 

Oleh Khaidir Asmuni

 

SAAT mengikuti rombongan Presiden Joko Widodo di acara di G 20, Menteri BUMN Erick Thohir mengupload sebuah video yang sangat singkat di akun media sosialnya, ketika dirinya sempat bertemu dengan para penggemar Inter Milan. 

Di video itu, Erick dielukan orang Italia sebagai seorang "Presiden." Entah apapun bentuk presidennya (karena Erick adalah Presiden klub sepak bola dunia), clip video tersebut memberikan gambaran yang sangat berbeda tentang orang Indonesia di Eropa. Yang sukses dan yang berjuang. Silih berganti jadi pemberitaan. Juga

tentang orang Indonesia yang sering berkeluh kesah susahnya menukar rupiah ke dalam Dolar atau Euro. Atau tentang orang Indonesia yang lebih sering disebut sebagai orang Asia (daripada disebut Indonesia) oleh masyarakat di sana. Atau orang Indonesia yang mungkin menghiasi pemberitaan karena terkait persoalan hukum.

Clip video Erick menunjukkan hal yang berbeda dan memberikan gambaran sebuah eksistensi anak bangsa dari Tanah Air.

Jauh hari sebelumnya, kita juga telah menyimpan video saat Barack Obama berkunjung ke Indonesia. Di video ini kita menyaksikan Barrack Obama bicara bahasa Indonesia. 

"Pulang kampung nih!" ujarnya, yang entah yang keberapa kali orang akan memutar ulang. Suka. Obama kecil berlarian di sawah, menangkap capung, dan mengejar kupu kupu. Lalu dia berteriak "sate" dan "bakso" yang membuat riuh, yang menyiratkan kedekatannya pada masyarakat Indonesia.

Kisah Obama dalam penggalan sejarah dibumikan masyarakat Indonesia dengan pendekatan psikologis yang begitu dalam.

Obama membumi. Difilmkan dan dia jadi anak Menteng.

Kita tidak perlu memuji Erick hanya sekadar menunjukkan rasa bangga dengan melihat clip singkat videonya di Italia. Tapi, kisah Erick di Italia terkesan paralel saat BJ Habibie (orang Indonesia yang berprestasi dan dapat membuat pesawat terbang) diajak kembali ke Tanah Air untuk mengabadikan diri. Yang kemudian BJ Habibie menjadi Menteri Riset dan Teknologi dan seterusnya. 

Kisah Erick juga tak berbeda. Jika BJ Habibie terkait dengan ilmu pengetahuan dan teknologi maka Erick Thohir terkait dengan kemampuannya di bidang perekonomian. Ini juga yang membuat Presiden Jokowi mempercayakannya dengan sejumlah kerja besar di Tanah Air, hingga yang bersangkutan menjadi menteri BUMN. 

Obama, BJ Habibie dan Erick Thohir adalah nama-nama tokoh besar dunia yang "membumi" di Tanah Air. Meski cara membumikan mereka memiliki dinamika sendiri. Nama Obama dibumikan oleh bangsa Indonesia sendiri dengan melihat kedekatan sejarahnya dari tahun 1967 sampai 1971. Dalam rentang 4 tahun tersebut sense of belonging dari sebagian rakyat Indonesia mencerminkan kebanggaan. Karena Amerika Serikat adalah sebuah negara besar dunia di mana Indonesia memiliki sense of belonging terhadap seorang presidennya, yaitu Obama.

Kisah membuminya nama Obama di Tanah Air memang sangat unik. Berbeda ketika Erick Thohir bercerita tentang kisah dirinya menjual biji karet di Pasar Tebet Barat saat dia menemani ibunya berdagang di pasar tersebut. 

Dalam usia yang sangat muda Erick bercerita tentang latar belakang intuisi dagangnya.

Meski kita kadang tertegun. Sampai sebegitu jauh Erick harus menjelaskan kisah biji karet untuk membumikan diri demi proximity pemberitaan di Tanah Air. 

Seolah dirinya ingin berteriak bahwa dia anak Gunung Sugih (daerah di Provinsi Lampung) yang merantau ke Tanjung Karang kemudian ke Solo lalu ke Jakarta bersama orang tuanya yang tengah berjuang di saat-saat sulit.

Tak bisa dipungkiri bahwa Erick Thohir adalah anak bangsa yang berhasil yang berjuang dari bawah dengan tetesan keringat dan air mata. Hingga mampu menguasai ilmu perekonomian dan sejumlah keberanian yang dia miliki. 

Dia menyentak publik Indonesia saat namanya dikenal bersama klub Inter Milan hingga keberhasilannya di Asean Games 2018.

Dua clip video yang sangat mudah menontonnya di era internet ini membuat kita tertegun. Bahwa seseorang tidaklah turun ke bumi dengan terbang _like an angle._ Tapi, hati kitalah yang membuat mereka membumi. (*)

author